Pesan Kapal Tanker, Pertamina Minta Galangan Kapal Nasional Tingkatkan Kandungan Lokal

MT Musi. (Foto: DRU)
MT Musi. (Foto: DRU)

Jakarta, MAROBS ** PT Pertamina (Persero) menantang industri pendukung galangan kapal untuk lebih bisa berkembang, sehingga kandungan lokal kapal dapat terus ditingkatkan. Saat ini, kandungan lokal untuk kapal-kapal tanker buatan dalam negeri, umumnya sekitar 30-35 persen.

Pertamina bersama para mitra dalam negerinya dalam proses penuntasan 8 proyek kapal tanker tipe GP dengan bobot mati 17.500 DWT. Proyek bernilai total sekitar US$200 juta tersebut ditargetkan tuntas pada tahun ini.

Kedelapan proyek tersebut meliputi MT Parigi dan MT Pattimura oleh PT Angrek Hitam Shipyard, MT Panderman, MT Papandayan, dan MT Putri oleh PT Daya Radar Utama, serta MT Pasaman, MT Panjang, dan MT Pangrango oleh PT Multi Ocean Shipyard.

“Pertamina berkomitmen tinggi untuk memberdayakan industri galangan kapal nasional berikut pendukungnya melalui pemesanan kapal tanker dari galangan dalam negeri,” rilis Vice President Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, Minggu (28/2/2016).

Saat ini, kapal Milik terbesar yang diproduksi galangan kapal nasional berukuran 30.000 DWT, yaitu MT Fastron yang dibangun oleh PT PAL. Kapal dengan ukuran sebesar itu dipercayakan pembangunannya setelah sukses membangun kapal sekelas di bawahnya.

“Pertamina selalu memberikan tantangan kepada industri dalam negeri, baik dalam hal besaran kapal maupun standar kapal. Galangan kapal nasional harus bisa membangun kapal berstandar Internasional yang dapat diterima berlayar ke negara mana pun di dunia. Kapal tanker Pertamina juga dituntut untuk ramah lingkungan dan tingkat safety tinggi dan taat terhadap ketentuan-ketentuan internasional lainnya,” papar Wianda.

Ia mencontohkan kinerja PT Daya Radar Utama (DRU). Setelah sukses membangun MT Musi berbobot 3.500 DWT dengan panjang kapal 90 meter, adalah kapal terbesar yang pernah dibuat DRU ketika itu, Pertamina memberikan kembali tantangan untuk membuat 3 kapal 17.500 DWT yang panjangnya 157 meter, lebar 28 meter, dan tinggi 12 meter.

“Kami juga meminta DRU dan juga galangan kapal lain agar bisa membangun dengan kualitas yang sama dengan kapal produksi Korea Selatan. Dan terbukti berhasil, sejauh ini,” ucap Wianda.

Apresiasi Kepada Pertamina

Business Development Director DRU, Steven Angga Prana, mengakui besarnya peran Pertamina untuk membangun kapasitas dan kemampuan galangan kapal dalam negeri. Kesuksesan membangun MT Musi pada 2012 memicu banyaknya order kapal-kapal besar dan modern kepada perusahaannya, termasuk KRI Bintuni milik TNI AL.

“Kami sangat mengapresiasi Pertamina yang berani memberikan order kepada galangan nasional. Semula kami hanya memproduksi kapal-kapal konvensional dan tidak high-tech. Dengan supervisi Pertamina yang telah berpengalaman membangun kapal di luar negeri, sekarang kami mampu dengan proses modern dan alat otomatis. Tanpa order Pertamina, galangan kapal mungkin tidur semua dan tidak ada transfer teknologi,” jelasnya.

Steven mengatakan, untuk menyelesaikan kapal berukuran 17.500 DWT umumnya memerlukan waktu 24 bulan. Dengan tiga kapal yang diorder Pertamina, DRU mempekerjakan sekitar 1.500 orang tenaga kerja.

“Kami optimis dapat berkembang dan Daya Radar Utama yang memiliki luas lahan 40 Ha dan garis pantai sekitar 600 meter ke depan akan mengembangkan galangan yang mampu membangun kapal tanker dengan kapasitas 100.000 DWT,” pungkasnya.