Bahas Laut Tiongkok Selatan, Presiden Jokowi: Rivalitas Kekuasaan Besar Harus Dicegah

Working dinner di Sunnylands Historic Home. (Foto: Setkab/BPMI/Laily)
Working dinner di Sunnylands Historic Home. (Foto: Setkab/BPMI/Laily)

California, MAROBS ** Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa kawasan Laut Tiongkok Selatan harus merupakan kawasan damai dan stabil. Untuk mewujudkannya, Presiden Jokowi menekankan, rivalitas kekuasaan besar harus dicegah.

Jokowi menyampaikan hal tersebut saat menghadiri working dinner di Sunnylands Historic Home, mengakhiri Retreat I KTT AS-ASEAN, Senin (15/2/2016). Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, bertindak sebagai tuan rumah dalam working dinner yang mengusung tema ‘On Regional Strategic Outlook’.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi memberikan pernyataan seperti halnya kepala negara/pemerintahan negara ASEAN. Ia menyampaikan dua isu utama, yakni perdamaian di Laut Tiongkok Selatan dan perdamaian di Timur Tengah.

Selain pencegahan rivalitas kekuasaan besar, Presiden Jokowi mengatakan, hukum internasional harus dihormati, Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) harus dilaksanakan secara penuh dan efektif, dan Code of Conduct (COC) harus dapat segera diselesaikan.

“Saya menggarisbawahi pentingnya semua pihak untuk menghentikan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan ketegangan. Sebagai non-claimant state, Indonesia ingin memberikan kontribusi bagi perdamaian dan stabilitas Laut Tiongkok Selatan,” ucapnya, dirilis Sekretariat Kabinet.

Perdamaian Timur Tengah

Presiden Jokowi juga menyampaikan keprihatinan atas keadaan Timur Tengah. Pada awal 2016, keprihatinan dunia meningkat dengan memburuknya hubungan Arab Saudi dan Iran. Terlebih lagi, masalah Palestina yang belum dapat diselesaikan dan konflik Suriah yang menyebabkan mengalirnya arus pengungsi keluar Suriah.

Menurut Presiden, pada saat yang sama, upaya melawan teroris ISIS hasilnya masih jauh dari baik. Bahkan jumlah Foreign Terrorist Fighters (FTF) bertambah. Indonesia tidak bisa tinggal diam melihat kondisi ini.

“Saya telah mengutus Menteri Luar Negeri Indonesia ke Iran, Arab Saudi, dan sejumlah negara di Timur Tengah untuk menggalang perdamaian,” kata Jokowi.

Ia memaparkan, pesan damai dan solusi politik telah disampaikan Indonesia pada PTM (Pertemuan Tingkat Menteri) Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam (OKI) di Jeddah, 21 Januari 2016. Pesan damai ini telah menjadi bagian dari Communique PTM Luar Biasa OKI saat itu.

Indonesia telah mengusulkan dibentuknya suatu mekanisme yang berisi prinsip-prinsip membangun kepercayaan (trust building), menghormati kedaulatan negara lain, dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

“Ini merupakan salah satu kunci terciptanya perdamaian di Timur Tengah,” ujar Presiden.

Terkait upaya penyelesaian masalah di Palestina, Presiden menyatakan bahwa dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina terus dilakukan secara konsisten. Salah satu wujud konkret kontribusi Indonesia adalah kesediaan Indonesia untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja sama Islam (OKI) pada 6-7 Maret 2016, yang akan membahas masalah Palestina dan Al Quds. Sebagai tuan rumah, Indonesia akan mengundang observer, termasuk AS.

“Saya ingin mendorong agar ASEAN dan AS terus dapat memberikan kontribusi bagi penyelesaian masalah Palestina,” pungkas Jokowi.