Kampung Nelayan Modern, Albicia Hamzah: Pranata Asli sebagai Potensi Ekonomis

Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah. (Foto: Arif Giyanto)
Praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah. (Foto: Arif Giyanto)

Kota Solo, MAROBS ** Untuk mewujudkan kampung nelayan modern, pranata asli menjadi fondasi utamanya. Meski berbingkai modern, justru keaslian akan menjadi diferensiasi kuat dalam mengangkat brand kampung nelayan.

“Rencana pemerintah untuk membangun kampung nelayan modern di Indramayu harus kita apresiasi. Karena, citra kampung nelayan yang selama ini dikesankan berbau dan kurang layak dikunjungi akan mulai hilang,” ujar praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, di kediamannya, Kota Solo Jawa Tengah, Minggu (17/1/2016).

Meski demikian, sambungnya, pemerintah tidak lantas meninggalkan pranata asli nelayan Indonesia yang turun-temurun mewarnai kehidupan pesisir, seperti seremonial sedekah laut, keegalitarianan, dan gaya nelayan yang ekspresif.

“Bolehlah misalnya belajar dari Sorrento Italia. Sebuah kampung nelayan yang telah berhasil ditransformasi menjadi kota menarik yang tidak barbau amis, bersih dari sampah, dan nelayan yang menjajakan menu kuliner dari ikan segar tangkapan mereka,” tutur Albi.

Lebih lanjut ia berpendapat, bila proyeksinya industri semata, skema itu kurang bisa diterapkan di Indonesia pada jangka panjang. Karena, nelayan Indonesia memiliki khazanah nilai yang tentu saja berbeda dengan banyak nelayan di negara-negara maju.

“Bila Anda berkunjung ke Alor NTT, misalnya. Sampai sekarang, masih ada nelayan yang bila pulang melaut, tak lupa ia membagi-bagikan sebagian hasil tangkapan kepada para tetangga. Tampak tidak ekonomis, tapi justru itu pranata penting yang tetap menyatukan mereka seperti keluarga,” ungkapnya.

Tradisional dan modernitas, menurut Albi, tidak untuk dipisahkan secara diametral. Karena, keberhasilan meramu dua hal tersebut justru memberi ruang segar baru bagi dunia.

“Sekarang ini era di mana manusia kelebihan informasi. Mereka membutuhkan autentisitas dan originalitas. Pranata asli nelayan dapat memiliki nilai tambah secara ekonomi bila mampu menarik pengunjung. Bukan hanya secara fisik kampung nelayan modern, tapi juga karena filosofi hidup nelayan. Apalagi kita ini kan bangsa pelaut yang namanya pernah sangat mendunia,” papar Albi.

Percepatan Kampung Nelayan Modern

Sebelumnya, pada pada Rapat Deputi Bidang SDM, IPTEK, dan Budaya Maritim, Kementerian Koordinator Maritim dan Sumberdaya di Gedung BPPT, Jumat (15/1/2016), merekomendasikan pentingnya kajian mendalam seputar bidang infrastruktur, sosial, ekonomi serta IPTEK untuk masyarakat nelayan.

“Ini harus dilakukan dalam rangka percepatan pembangunan kampung nelayan modern di Indramayu,” terang Deputi IV, Safri Burhanuddin, dirilis Kemenko Maritim.

Rapat tersebut menindaklanjuti kunjungan kerja Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumberdaya, Rizal Ramli, di Indramayu Jawa Barat, pada 17 November 2015. Rapat menunjuk Staf Ahli Menteri, Kasino, sebagai penanggung jawab kajian ekonomi, serta Staf Khusus Menteri Bambang Susanto sebagai penanggung jawab Kajian Infrastruktur.

Sebagai koordinator kegiatan ditunjuk Asisten Deputi (Asdep) Diklat Kemaritiman, dibantu oleh Asdep IPTEK dan Asdep Jejaring Deputi IV.

Selanjutnya, akan digelar tindak lanjut, yakni rapat bersama Bupati Indramayu dan Kementerian terkait, 20 Januari 2016 mendatang.