Harga Minyak Dunia Turun, SKK Migas Lakukan Efisiensi Hulu Migas

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi (kanan), saat Indonesia Oil and Gas 2016 Outlook Conference. (Foto: SKK Migas)
Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi (kanan), saat Indonesia Oil and Gas 2016 Outlook Conference. (Foto: SKK Migas)

Jakarta, MAROBS ** Kondisi harga minyak dunia saat ini sangat berpengaruh pada eksplorasi dan produksi migas di Indonesia. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menyusun sejumlah strategi untuk menghadapinya.

“Strategi awal yang diusung SKK Migas adalah efisiensi pada industri hulu migas, baik efisiensi dalam penggunaan pengeluaran capital (capital expenditure) maupun pengeluaran operasional (operating expenditure),” ujar Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi, dalam Indonesia Oil and Gas 2016 Outlook Conference di Jakarta, beberapa waktu lalu, dirilis Humas SKK Migas.

Ia menjelaskan, efisiensi dapat diimplementasikan melalui optimasi kegiatan pengeboran pengembangan, peningkatan kegiatan kerja ulang dan perawatan sumur, serta mempertahankan keandalan fasilitas produksi. Selain itu, perlu dilakukan negosiasi harga dengan penyediaan barang dan jasa.

“Untuk proyek yang sangat terpengaruh harga minyak, penting untuk di-review ulang,” ungkap Amien.

Secara internal, sambungnya, SKK Migas terus berupaya meningkatkan kinerjanya, yaitu dengan meningkatkan efisiensi kerja, meningkatkan koordinasi dengan instansi pemerintah terkait implementasi peraturan dan perizinan, serta memberi asistensi kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS).

Tetap Laksanakan Eksplorasi

SKK Migas juga meminta Kontraktor KKS untuk tetap melaksanakan kegiatan eksplorasi, meskipun harga minyak dunia sedang turun.

“Kalau eksplorasi dilakukan sekarang, cost-nya relatif lebih rendah dibanding tahun lalu. Dengan harapan, nanti kalau discovery, waktu development cost-nya juga lebih rendah, dan nanti, waktu onstream, harga minyak sudah waktunya naik,” papar Amien.

Kegiatan hulu migas terdiri atas dua kegiatan utama, yaitu eksplorasi dan produksi. Kegiatan eksplorasi adalah tahap awal dari seluruh rangkaian kegiatan hulu migas.

Secara umum, aktivitas eksplorasi meliputi studi geologi, studi geofisika, survei seismik, dan pengeboran eksplorasi. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menemukan cadangan baru, baik di wilayah kerja yang sudah berproduksi maupun di wilayah kerja yang belum diproduksikan.

Eksplorasi menjadi kunci ketersediaan sumberdaya migas di masa mendatang.

Saat ini, Indonesia memiliki 228 wilayah kerja eksplorasi yang tersebar di seluruh Nusantara. Berdasarkan hasil pembahasan Rencana Kerja dan Anggaran atau Work Program and Budget (WP&B) tahun 2016, program eksplorasi yang direncanakan tahun ini, antara lain adalah pengeboran 151 sumur eksplorasi, seismik 2D sepanjang 11.126 kilometer, dan seismik 3D seluas 5.361 kilometer persegi.

2016, Sertifikasi 1000 Pekerja

Sementara itu, pada 2016, Lembaga Sertifikasi Profesi Kegiatan Usaha Hulu Migas (LSP-Hulu Migas) menargetkan akan melakukan sertifikasi atas 1.000 pekerja. Sertifikasi diharapkan berkontribusi mempersiapkan pekerja industri hulu migas menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang mulai berlaku awal tahun.

Untuk mencapai target sertifikasi 1000 pekerja, LSP Hulu Migas sedang mempersiapkan metode uji kompetensi yang lebih praktis dan komprehensif, yaitu dengan menggunakan teknologi informatika, sehingga lebih terukur, terjaga kerahasiannya, cepat, kredibel, dan akuntabel.

Proses registrasi akan disimplifikasi dengan aplikasi registrasi online, sedangkan proses asesmen akan menggunakan aplikasi ujian online dan teleconference.

“Ditargetkan kegiatan uji kompetensi di level staf akan dapat dimulai pada akhir Maret mendatang. Dengan simplifikasi registrasi dan asesmen, waktu yang diperlukan akan jauh lebih singkat, sehingga target 1000 pekerja kemungkinan besar dapat tercapat sampai akhir tahun ini,” terang Ketua LSP Hulu Migas, Muliana Sukardi.

Cikal bakal LSP-Hulu Migas adalah Lembaga Sertifikasi Profesi Pengelolaan Rantai Suplai Migas Indonesia (LSP-PRS Migas) yang berdiri 10 Juli 2013. LSP-PRS Migas didirikan oleh SKK Migas, Kontraktor Kontrak Kerja Sama (Kontraktor KKS), dan Asosiasi Profesi Pengelolaan Rantai Suplai Migas Indonesia (APPI).

Dalam perjalanannya, SKK Migas dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) memandang bahwa bukan hanya bidang pengelolaan rantai suplai yang memerlukan sertifikasi, tetapi semua profesi pada industri hulu migas wajib memilikinya dalam rangka menyambut MEA.

Akhirnya, pada 28 Juli 2015, nama LSP-PRS Migas diubah menjadi LSP- Hulu Migas dengan cakupan sertifikasi yang diperluas ke berbagai bidang profesi. LSP Hulu Migas telah mendapatkan lisensi dari BNSP pada tanggal 31 Agustus 2015.

Selain melakukan sertifikasi pekerja hulu migas, LSP- Hulu Migas melakukan sejumlah langkah untuk mendukung pekerja hulu migas Indonesia menghadapi MEA. Langkah-langkah tersebut antara lain melakukan sosialisasi kepada pemangku kepentingan tentang pentingnya kompetensi, menjelaskan kehadiran LSP-Hulu Migas sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam pelaksanaan uji kompetensi, dan memberi masukan kepada SKK Migas tentang kewajiban pelaksanaan uji kompetensi dengan tetap mengikuti aturan internal yang ada pada industri hulu migas.

“Semua program tersebut bermuara untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, profesionalisme dari semua disiplin profesi pada industri hulu migas, sehingga dapat setara atau bahkan lebih dari standar pekerja dari negara lain,” pungkasnya.