Siswanto Rusdi: Langgar Hukum Laut Internasional, Amerika Serikat Arogan!

Salah satu aktivitas eksplorasi Laut Dalam oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat di the northeast US coast. (Foto: NOAA Okeanos Explorer Program)

Tianjin, MARITIMEOBSERVER.COM ** Direktur Kemaritiman The National Maritime Institute (Namarin), Siswanto Rusdi, berpandangan, Amerika Serikat adalah negara yang arogan dan pelanggar hukum laut internasional. Sis, begitu ia akrab disapa, menyampaikan hal tersebut dari Tianjin, Tiongkok, Senin (3/7/2017).

Ia menjelaskan, Amerika Serikat tidak menandatangani United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 82, karena tidak menyepakati pengaturan penambangan di laut dalam, sebagaimana diatur dalam Bagian XI UNCLOS.

“Tetapi, (Amerika Serikat) menyetujui pengaturan bidang lainnya. Namun, kondisi ini tidak membuat Amerika Serikat menjadi negara penandatangan UNCLOS. Ia tetap berada di luar konstitusi laut tersebut,” ujar Sis.

Itu berarti, sambungnya, dalam tata pergaulan kemaritiman internasional, Amerika Serikat bukanlah entitas yang sah.

“Yang menarik, kendati tidak mau terlibat dalam pengaturan penambangan laut dalam, Amerika Serikat merupakan negara yang paling intensif melakukan eksplorasi dan eksploitasi laut dalam. Menurut UNCLOS, aktivitas ini memerlukan persetujuan ISBA (International Seabed Authority),” ungkap Siswanto.

Menurutnya, eksplorasi dan eksploitasi laut dalam oleh entitas-entitas yang dibuat untuk itu, Amerika Serikat akhirnya memiliki komoditas yang dapat dijual kepada negara-negara penandatangan UNCLOS.

“Ini kan kejahatan. Membeli produk dari aktor ilegal,” tandasnya.

Siswanto berkesimpulan, Amerika Serikat telah melakukan perbuatan melawan hukum laut internasional.

Direktur NAMARIN, Siswanto Rusdi (kanan) dan Prof Daniel M. Rosyid (tengah) di SOA China. (Foto: SEA-NET Team)

Lantas apa untung-ruginya bagi Indonesia? Bagi Sis, telah jelas, Amerika Serikat melanggar hukum internasional. Sebagai warga dunia dan menjunjung tinggi hukum, lanjutnya, Indonesia harus menyuarakan itu.

Sejauh ini, tutur Siswanto, banyak negara telah menyuarakan hal tersebut, meski tidak dikutip oleh media.

Ketika ditanya mengenai apa yang selama ini menjadi pegangan Amerika Serikat dalam melakukan eksplorasi dan eksploitasi laut dalam, dengan tegas, Sis menyatakan, tidak ada.

“Tidak ada. Hanya arogansi,” tutupnya.

Bersama beberapa pakar maritim nasional, Siswanto kini tengah berada di State Oceanic Administration of China (SOAC), Tianjin, Tiongkok, dalam rangka Visiting Scientist Program The South East Asia Network for Education and Training (SEA-NET). Topik yang diangkat menyoal UNCLOS. Program digelar mulai Senin (3/7/2017) hingga Jumat (7/7/2017).