Bedah Buku Fakultas Hukum UMS Surakarta, Letkol Laut (P) Salim: Bicara Maritim Bicara Kebenaran

KULIAH UMUM – (Ki-ka) Letkol Laut (P) Salim, Galang Taufani, Arif Giyanto, dan Farhan Hakim. (Foto: Haris Sunarmo)

Sukoharjo, MARITIMEOBSERVER.COM ** Penulis Buku ‘Konsep Neo-Geopolitik Maritim Indonesia Abad 21: Ancaman Zionis dan China’, Letkol Laut (P) Salim, menegaskan bahwa berbicara tentang kemaritiman adalah berbicara tentang kebenaran. Ia menyampaikannya dalam Kuliah Umum dan Bedah Buku yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat (26/5/17).

“Bicara maritim tidak hanya laut, tetapi juga darat dan udara. Contohnya, Amerika Serikat yang memiliki kekuatan maritim kuat. Karena, bicara maritim adalah bicara kebenaran,” ujar Salim.

Peran TNI, lanjutnya, selain menjaga kedaulatan bangsa juga berperan sebagai poros utama dalam menghidupi pulau-pulau terluar di Indonesia.

“Peran TNI luar biasa. Mereka masuk dulu ke pulau terluar biar ramai, kemudian baru yang lainnya masuk,” jelas perwira TNI AL yang telah menulis banyak buku ini.

Menurutnya, filosofi pembangunan kemaritiman Indonesia berangkat dari sejarah perjalanan Bangsa Indonesia. Ia menyampaikan bahwa dalam perjalanannya, Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, serta representasi sebuah bangsa dari Negeri Atlantis dan Negeri Saba.

“Ini sudah tertulis di Al-Quran Surat Al-An’am ayat 6 tentang perjalanan suatu negeri yang dilimpahkan keberkahan oleh Allah, dan pada akhirnya dibinasakan, karena penduduknya melakukan suatu dosa,” ungkap pria kelahiran Surabaya tersebut.

Salim memberi gambaran, solusi pengembalian kejayaan maritim Bangsa Indonesia, hanya dengan Dekrit, guna mengembalikan kedudukan Pancasila dan UUD 45 yang benar.

“Hal itu pernah dilakukan oleh Bung Karno pada 5 Juli 1959 untuk meneguhkan Deklarasi Djuanda 13 Desember 1957,” kata penulis yang rajin berpuasa Daud itu.

One in a Million

Selain penulis buku, kuliah umum menghadirkan Pemimpin Redaksi maritimeobserver.com, Arif Giyanto, dan perwakilan Gerakan Pemuda Maritim Indonesia (GPMI), Farhan Hakim.

Arif berpandangan, buku yang ditulis oleh Letkol Laut (P) Salim adalah buku yang bagus dan jarang ada, karena kemungkinan seorang tentara menulis seperti ini sangatlah sedikit.

“Penulis buku bagi saya, One in a Million. Jarang sekali kita jumpai anggota TNI yang concern mengawal isu-isu khusus dengan menulis buku. Buku ini juga beyond reality, karena mengkritisi dominasi atas negara dalam konteks capital, yakni pengaruh China dan zionisme,” tutur alumnus Fakultas Ekonomi UMS ini.

Selain itu, mantan Pemimpin Umum LPM Pabelan UMS tersebut berpendapat, Letkol Laut (P) Salim sebenarnya tengah menginisiasi gerakan, dengan menulis buku sebagai awalan.

“Saya menilai, penulis tengah membangun movement, meski katakanlah, masih malu-malu. Semoga ikhtiarnya dapat berbuah output yang berguna bagi rakyat Indonesia,” tandas Arif.

Ia memberi saran kepada UMS, atau Pimpinan Fakultas Hukum untuk kembali menghidupkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan sasaran pulau-pulau terluar seperti Morotai, Natuna, atau Alor. Program itu ia rasa sangat berarti bagi pembentukan karakter SDM yang akan berguna kelak, setelah lulus.

“Kepada mahasiswa, cobalah lakukan perjalanan ke pulau terluar di Indonesia agar mengetahui keadaan sesungguhnya dan potensi kemaritiman yang kita punya. Biar kita tahu, listrik di Pulau Morotai, misalnya kadang hidup kadang mati,” ungkapnya.

Observasi Masyarakat Pesisir

Senada, Farhan Hakim yang selama ini melakukan pendampingan di pulau-pulau kecil di Indonesia, salah satunya Pulau Tunda Banten, mengatakan, potensi yang dimiliki kemaritiman Indonesia sangatlah besar.

“Kami selalu melakukan kajian tentang kemaritiman. Hasilnya bisa dibuat artikel. Kami juga memiliki masyarakat binaan di Pulau Tunda Banten untuk observasi langsung kehidupan masyarakat pesisir,” papar Farhan.

Acara bedah buku dibuka Dekan Fakultas Hukum UMS, Natangsa Surbakti, dan diikuti mahasiswa hukum dan mahasiswa umum. Bahkan ada perwakilan dari Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) Semarang.

Natangsa menjelaskan bahwa usia bumi yang tak lagi muda serta kondisi geografis Indonesia harus mendorong negeri ini mampu beradaptasi.

“Maritim merupakan jatidiri bangsa Indonesia, karena wilayahnya didominasi oleh laut. Namun, seiring berjalannya waktu, terus terjadi ancaman, sehingga diperlukan strategi yang komprehensif dalam menghadapi situasi tersebut,” pungkasnya.