Penuhi Kebutuhan Lebaran, Nelayan Sukabumi Tetap Melaut Meski Ombak Tinggi

RISIKO TINGGI - Sebuah perahu milik nelayan Pantai Kesik Urug  Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, tengah sandar. (Foto: Hendra Wiguna)
RISIKO TINGGI – Sebuah perahu milik nelayan Pantai Kesik Urug Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, tengah sandar. (Foto: Hendra Wiguna)

Sukabumi, MAROBS ** Berdasarkan pengamatan hingga Minggu (3/7/2016), sepanjang Pantai selatan sedang berombak tinggi. Meski demikian, hal tersebut tidak mengurungkan nelayan Sukabumi untuk tetap melaut.

Tidak dapat dipungkiri, sebagian nelayan melakukannya untuk memenuhi kebutuhan keluarga menjelang Lebaran. Harga-harga kebutuhan pokok biasanya melonjak, sedangkan sumber kehidupan nelayan hanya bergantung kepada hasil laut.

Saat-saat seperti inilah, nelayan diserang dilema, antara melaut demi memenuhi kebutuhan yang sekaligus sangat membahayakan keselamatan mereka, atau mencari pekerjaan lain yang tentunya di luar keahlian mereka.

Nelayan, biasanya hanya bergantung pada aktivitas melaut guna memenuhi kebutuhan penghidupan. Keahlian nelayan terpaku pada melaut. Tidak banyak dari nelayan yang memiliki kemampuan selain melaut.

Nelayan Pantai Kesik Urug  Tegalbuleud, Kabupaten Sukabumi, sebagai misal. Pada umumnya, mereka masih menjual hasil tangkapan kepada masyarakat sekitar. Penjualan hasil tangkapan mereka belum berskala besar, mengingat hasil tangkapan yang masih sedikit, serta ragam hasil tangkapan yang masih terbatas.

Saat ini sedang musim ikan layur yang dijual dengan harga Rp30 ribu-Rp40 ribu. Nelayan Pantai Kesik Urug, pada umumnya bukan berasal dari masyarakat daerah Tegalbuleud. Kebanyakan mereka adalah orang yang berasal dari luar daerah, seperti Garut dan Cianjur.

“Ombak memang tinggi, tapi harus bagaimana lagi, harga-harga barang pokok yang merupakan kebutuhan kita juga meninggi menjelang Lebaran,” ujar seorang nelayan asal garut berusia 45 tahun, kepada Maritime Observer.

Meski dalam kondisi berpuasa, nelayan tetap melangsungkan aktivitas penangkapan ikan.

“Biasanya kami berangkat jam 09.00 pagi dan pulang jam 10.00 pagi esok harinya. Kami tidak setiap hari melaut, karena cukup besar tenaga yang dikeluarkan ketika melawan ombak yang tinggi,” tambah si nelayan.

Negara Harus Hadir

Saat seperti inilah peran pemerintah dinanti, mengingat anjuran Presiden Joko Widodo untuk beralih mengkonsumsi ikan. Sudah seharusnya, pemerintah memfokuskan diri pada ketersediaan produksi ikan. Tentunya pengoptimalan produksi pasok ikan dalam negeri menjadi pilihan utama.

Produksi ikan dalam negeri harus dibarengi dengan pelayan serta fasiltas yang baik untuk nelayan sebagai pelaku utama perikanan. Menyoal kualitas yang dihasilkan nelayan, pemerintah harus turut andil dalam meningkatkan kualitas ikan tersebut.

Hulu dan hilir produksi perikanan harus termasuk dalam jamahan pemerintah, dimulai dari keberangkatan nelayan melaut, hingga pemasaran hasil tangkapan. Nelayan harus dilayani dengan baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *