Bernilai Ekonomi Tinggi, Eksplorasi Potensi Samudera Hindia Saatnya Dioptimalkan

POTENSIAL - Kapal Tiongkok, Qianlong 2, dalam sebuah misi eksplorasi Samudera Hindia, akhir Maret 2016. (Foto: Chinese Academy of Sciences)
POTENSIAL – Kapal Tiongkok, Qianlong 2, dalam sebuah misi eksplorasi Samudera Hindia, akhir Maret 2016. (Foto: Chinese Academy of Sciences)

Yogyakarta, MAROBS ** Samudera Hindia menyimpan cadangan minyak dunia sebesar 55 persen dan 40 persen cadangan gas dunia. Samudera ini memproduksi sepertiga produksi tuna dunia serta menyimpan berbagai cadangan mineral yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Sebagai samudera terbesar ketiga, Samudera Hindia menyediakan sumber kehidupan bagi nelayan. Selain itu, secara georafis dan geo-strategis menjadi sangat penting dalam konteks kepentingan ekonomi dan pertahanan keamanan global.

Dilihat dari kepentingan ekonomi, Samudera Hindia berpotensi sangat prospektif, di antaranya pasar yang besar dengan jumlah penduduk sekitar 2,5 miliar. Sementara sekitar 70 persen perdagangan dunia melewati kawasan ini.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Kerja Sama dan Penanaman Modal (BKPM) DIY, Totok Prianamto, yang membacakan sambutan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, pada Seminar Sosialisasi Indian Ocean Rim Association (IORA), di Balai Senat Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (26/5/2016).

Berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengarahkan pembangunan menuju orientasi kemaritiman. Visi pembangunan jangka menengah dengan adagium ‘Dari Among Tani Menuju Dagang Layar’ perlu ditempuh, karena selama ini, orientasi pembangunan DIY hanya bertumpu wilayah utara yang sebagian besar berbasis agraris (Among Tani).

“Di masa mendatang, orientasi pembangunan diarahkan ke wilayah selatan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan lebih fokus pada sektor maritim dan Dagang Layar,” ujar Totok, dirilis Humas UGM.

Samudera Hindia, sambungnya, adalah halaman depan Indonesia, yakni negara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.  Sejarah nenek moyang, tambah Totok, memperlihatkan bahwa wajah Indonesia adalah kemaritiman. Negara yang memiliki identitas sebagai negara kelautan.

“Hanya di akhir-akhir ini, di abad ke-20 ke sini, kita lebih berkiprah di ASEAN dan APEC yang condong ke wilayah Pasifik. Jadi, wajah pasifik yang lebih mengemuka. Karena itu, kita mohon masukan civitas akademika UGM dan perguruan tinggi sekitar untuk kepentingan ini,” katanya.

Sementara itu, Direktur Kerja Sama  Mitra Kawasan Pasifik & Afrika Kemenlu RI, Benyamin Carnadi, menuturkan, posisi strategis yang dimiliki Indonesia memiliki banyak keuntungan. Keuntungan tersebut, yaitu berada di antara dua samudera, Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, serta daerah kepulauan yang menjadikan Indonesia memiliki double identity.

Posisi Strategis IORA

Seminar Sosialisasi IORA merupakan hasil kerja sama Kementerian Luar Negeri RI, Pemerintah Daerah DIY, dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Acara ini menghadirkan empat pembicara, yaitu Dit. KSI ASPASAF Kemlu RI, Riaz Saehu, yang mengangkat topik ‘IORA dan Kekuatan Indonesia 2015-2017’; Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Prof Abdul Karim menyajikan topik ‘Memahami Pengaruh Budaya dari Negara-negara Lingkar Samudera Hindia dalam Kontekstualisasi Budaya dan Kearifan Lokal DIY’; Kepala BKPM DIY, Totok Prianamto memaparkan topik ‘Menilik Potensi Pengembangan Investasi di DIY dengan Negara Anggota IORA’; serta Suadi menjelaskan ‘Pemanfaatan Kekayaan Laut di Kawasan Samudera Hindia: Perspektif DIY’.

Asosiasi negara-negara di kawasan Samudera Hindia atau Indian Ocean Rim Association (IORA) memang masih asing di telinga sebagian besar masyarakat Indonesia. Bahkan mungkin masih asing di dunia pendidikan, sekolah-sekolah, maupun perguruan tinggi.

Menurut Wakil Rektor UGM Bidang Kerja Sama dan Alumni, Paripurna P. Sugarda, IORA beranggotakan 21 negara di seputar Samudera Hindia.  Periode 2015 -2017, Indonesia dipercaya sebagai chairman IORA.

“Karena itu, penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan posisi ini untuk menguatkan hubungan antar-berbagai negara. Kita bisa memanfaatkan sebaik mungkin posisi asosiasi ini di kancah pergaulan internasional,” terang Paripurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *