Ramah Lingkungan, Pelabuhan Tanjung Perak Elektrifikasi Alat Bongkar Muat

Container crane memindahkan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak. (Foto: Humas Pelindo III)
Container crane memindahkan peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak. (Foto: Humas Pelindo III)

Surabaya, MAROBS ** Komitmen PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) atau Pelindo III untuk menghijaukan pelabuhan terus intens direalisasikan. Belum lama ini, elektrifikasi dilakukan terhadap peralatan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Perak yang masih menggunakan bahan bakar minyak.

Peralatan bongkar muat yang dielektrifikasi berupa dua unit container crane (CC) di Terminal Nilam, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kedua peralatan tersebut semula menggunakan bahan bakar minyak, kemudian diubah menjadi bertenaga listrik.

Sebelumnya, Pelindo III membangun Terminal Teluk Lamong sebagai green port pertama di Indonesia. Tak hanya itu, Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) Pelabuhan Tanjung Emas secara bertahap sudah mulai menerapkan konsep green terminal.

Kahumas Pelindo III Tanjung Perak, Oscar Yogi Yustiano, mengatakan, konversi bahan bakar minyak menjadi tenaga listrik mempertegas komitmen Pelindo III dalam menghijaukan pelabuhan.

“Penggunaan listrik sebagai tenaga penggerak alat bongkar muat akan mengurangi emisi gas karbon yang bersumber dari aktivitas kepelabuhanan,” ujar Yogi, Jumat (8/4/2016).

Selain itu, sebagai bagian dari konsistensi Pelindo III dalam mempertimbangkan aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). BUMN kepelabuhanan ini tidak hanya menjamin keselamatan proses kerja untuk karyawannya, tetapi juga meminimalisasi dampak lingkungan akibat proses kerja yang dilakukan.

“Aspek manusia dan alam sekitar menjadi elemen penting yang diperhatikan Pelindo III pada setiap proses bisnisnya dalam mendorong integrasi logistik nasional. Pelindo III juga mendorong setiap kontraktor pekerjaan yang terkait, serta institusi lain di pelabuhan wilayah kerjanya untuk terus memperhatikan faktor kesehatan dan kelestarian lingkungan,” terangnya.

Sejak 2015

Asisten Manager Peralatan dan Instalasi Pelindo III Cabang Tanjung Perak, Kamal Zakiy, menuturkan, program konversi bahan bakar telah dijalankan sejak 2015 dan diharapkan terealisasi pada akhir 2016.

“Saat ini masih dalam tahap observasi, dengan fokus pada CC-01 dan CC-03,” ungkapnya.

Konversi bahan bakar pada dua unit CC tersebut akan meningkatkan efisiensi bongkar muat di Terminal Nilam, yang sebelumnya sudah ditambah dua unit CC bertenaga listrik pada September 2015 silam.

Kedua CC ini memiliki beberapa kelebihan dibanding crane yang sudah ada sebelumnya, antara lain, kapasitas angkut yang mencapai maksimal 40 ton serta kecepatan melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas hingga 35 box/crane/hour. Hal ini lebih cepat dibandingkan dengan CC eksisting yang mampu mencapai 25 box/crane/hour.

“Kesiapan container crane relatif lebih cepat karena breakdown dari kegiatan teknis seperti pengisian BBM, dapat ditekan. Dengan kata lain, proses bongkar muat menjadi relatif lebih cepat,” jelasnya.

Untuk mendukung elektrifikasi peralatan bongkar muat tersebut, Pelindo III juga membangun power house berisi genset untuk menyuplai listrik ketika terjadi pemadaman listrik. Kapasitas power house yang sudah ada untuk memasok listrik kedua CC sebesar 2.500 kVA.

Dengan adanya tambahan dua CC lagi yang telah dielektrifikasi maka ada empat CC yang beroperasi, sehingga kapasitas power house akan ditambah menjadi 5.000 kVA.

“Setelah proses elektrifikasi dua CC yang sedang berjalan selesai maka akan ada empat container crane bertenaga listrik yang siap beroperasi malayani pengguna jasa di Terminal Nilam,” ucap Kamal.

Menurutnya, pengalihan sumber energi menjadi tenaga listrik untuk dua CC itu menyumbang efisiensi biaya eneger hingga mencapai 60-70 persen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *