Gunakan Bangunan Apung, Blok Masela Bisa Tingkatkan Lifting Galangan Domestik

Central Processing Facility milik INPEX. (Foto: INPEX)
Central Processing Facility milik INPEX. (Foto: INPEX)

Kuala Lumpur, MAROBS ** Apabila Blok Masela menggunakan sistem tambat bangunan apung (floating unit), Indonesia bisa mengandalkan peningkatan lifting galangan domestik. Hal tersebut disampaikan ahli mooring Lloyd’s Register Asia, Ika Prasetyawan.

Ia menjelaskan, pemilihan sistem tambat bangunan apung ditentukan oleh kedalaman laut dan intensitas cuaca lokal, termasuk kombinasi arah datangnya gelombang, angin, dan arus. Merujuk standar American Petroleum Institute, sistem tambat permanen (mooring system) dapat dibedakan menjadi sistem tambat haluan tetap (fixed heading), dan sistem tambat haluan bervariasi (variable heading).

“Agar sesuai dengan nomenklatur standar maka yang pertama disebut sebagai Spread Mooring (SM) dan yang kedua disebut sebagai Single Point Mooring (SPM),” ujarnya, Rabu (13/4/2016), di Kuala Lumpur.

Menurutnya, baik SM maupun SPM bisa digunakan, mulai dari laut dangkal (100 m hingga 500 m), misalnya FLNG Prelude (350 meter), sampai dengan laut dalam (sampai dengan 3000 meter), misalnya FPSO Kikeh (1200 meter), FPU Gumusut (1200 meter), FLNG Mozambique (2300 meter; masih dalam tahap FEED).

Kemampuan yang fleksibel untuk berbagai kedalaman laut ini, sambung Ika, mengandalkan kelenturan tali tambat (mooring line) dan gaya tahanan (holding power) dari jangkar. Karena alasan untuk menghemat payload, kombinasi mooring line antara rantai (chain), wire rope, dan polyester umumnya digunakan untuk laut dalam.

“Apabila SM sesuai untuk iklim di Indonesia yang relatif tenang, tidak demikian halnya dengan perairan yang rawan typhoon atau cyclone. Ladang minyak dan gas di perairan Australia Barat (Western Australia) salah satu contohnya. Pada daerah ini, bangunan apung seperti FLNG atau FPSO harus mampu menyesuaikan arah haluan akibat terpaan cyclone,” papar alumnus ITS Surabaya itu.

Secara logika, jelasnya, untuk mendapatkan beban yang minimum, haluan FLNG atau FPSO harus dapat berputar agar selalu dalam kondisi satu garis (inline) dengan gaya-gaya gelombang, angin dan arus; sehingga digunakanlah sistem tambat SPM menggunakan turret system.

Sistem ini lebih compact karena rangkaian mooring line, umbilical, dan riser dapat disatukan ke dalam satu struktur turret, termasuk adanya slewing bearing/boogie wheel bearing yang menyebabkan FLNG atau FPSO dapat berputar mengikuti arah datangnya gelombang, angin, dan arus (weathervaning). Karena seluruh komponen bisa disatukan ke dalam satu turret maka perawatan juga mudah dan proses instalasi terutama di laut dalam akan relatif lebih cepat.

“Tidak semua unit apung berbentuk kapal seperti halnya FPSO and FLNG, tetapi bisa juga berbentuk semi-submersible. Struktur jenis ini hanya bisa menggunakan sistem spread mooring,” terang Ika.

Struktur Pengembangan Ladang Masela

Lebih lanjut, Ika Mengambil contoh Ladang Belanak di Blok B Natuna yang menggunakan dua well head platform dengan offloading buoy pada kedalaman sekitar 100 m. Di sini, minyak disalurkan lewat offloading buoy, sedangkan gas dialirkan melalui pipa bawah laut ke konsumen akhir.

FPSO Belanak juga dilengkapi dengan kilang terapung LPG yang hasilnya disalurkan ke FSO. Menariknya, FPSO Belanak menggunakan sistem tambat SM, sedangkan FSO yang berada sekitar 2 km menggunakan sistem tambat SPM.

Logikanya, apabila pemilihan sistem tambat berdasarkan kondisi lingkungan maka pemilihan sistem tambat keduanya harusnya sama.

“Kemungkinan, sistem tambat SPM dipilih untuk FSO dalam memudahkan pemasangan dan fabrikasi mooring system beserta umbilical dan riser yang sistemnya bisa lebih compact,” ungkap Ika.

Sementara itu, Ladang Jangkrik pada kedalaman 400 m di Blok Muara Bakau dirancang akan menggunakan bangunan apung FPU berbentuk ponton (barge) yang disambungkan langsung ke dalam sumur gas bawah laut. Karena bentuknya yang barge dengan rasio panjang banding lebar yang kecil maka sistem tambat spread mooring yang digunakan.

“Kesimpulan dari kedua contoh kasus itu maka untuk Masela pada kedalaman 300-1000 m logikanya akan menggunakan bangunan apung sebagai central processing and production unit,” kata alumnus Marine Technology University of Newcastle upon Tyne UK tahun 1994 ini.

INPEX ICHTHYS, proyek pengembangan ladang gas di perairan West Australia yang berkapasitas di atas prediksi ladang Masela, menggunakan struktur bangunan apung semi-submersible sebagai Central Processing Facility.

Bangunan ini merupakan semi-submersible terbesar di kedalaman sekitar 1000 m, sama dengan kedalaman Ladang Masela, dan menggunakan sistem tambat spread mooring.

Kondensat disalurkan ke FPSO dan gas diteruskan melalui 899 km sambungan pipa bawah laut ke pengilangan darat di Darwin. Sesuai dengan karakter perairan West Australia yang rawan cyclone, FPSO menngunakan sistem tambat SPM dengan turret system.

“Kemungkinan skema model ICHTHYS ini bisa diambil, mengingat INPEX adalah operator yang sama. Dengan demikian, Indonesia masih bisa mengandalkan peningkatan lifting galangan domestik,” pungkasnya.