Profesor Daniel Mohammad Rosyid: Industri Pertahanan Maritim Harus Berperspektif Kemandirian

Profesor Daniel Mohammad Rosyid (paling kiri) dalam Maritime Seminar Pelindo III Goes To Campus, beberapa waktu lalu. (Foto: Humas Pelindo III)
Profesor Daniel Mohammad Rosyid (paling kiri) dalam Maritime Seminar Pelindo III Goes To Campus, beberapa waktu lalu. (Foto: Humas Pelindo III)

Surabaya, MAROBS ** Dekan Fakultas Teknologi Kelautan ITS Surabaya, Profesor Daniel Mohammad Rosyid, menilai, industri pertahanan maritim harus berperspektif kemandirian. Bila tidak demikian, pertahanan yang dimiliki akan semu.

“Kita harus mengarah pada kemandirian industri pertahanan. Artinya, secara berangsur, harus bisa dirancang bangun secara domestik,” ujarnya, Minggu (20/3/2016), di Surabaya.

Ia mencontohkan rencana kerja sama industri pertahanan maritim Indonesia dan Denmark yang menurutnya berpeluang besar, tapi kurang dirancang untuk memperkuat industri maritim nasional.

“Kita pilih mitra yang mau melakukan alih teknologi secara penuh. Saya usul, Turki atau Rusia. Jangan yang terlalu canggih. Mitra menengah saja yang kita pilih agar bisa diproduksi secara domestik dalam waktu dekat,” terang Daniel.

Kelebihan Rusia dan Turki, sambungnya, adalah kesediaan alih teknologi. Amerika Serikat dan The North Atlantic Treaty Organization (NATO) memelihara ketergantungan Indonesia pada spare parts. Sementara dengan Rusia dan Turki, kata Daniel, Indonesia dapat meminta relokasi atau alih teknologi industri maritim mereka.

“Amerika Serikat dan NATO sudah terjebak dalam military-industrial complex yang hanya bisa lestari dengan cara menebar peperangan di mana-mana, kecuali di negeri sendiri,” ungkapnya.

Profesor Daniel memprediksikan proses kemandirian industri pertahanan bisa diagendakan tercapai dalam waktilu 15 hingga 30 tahun ke depan, atau sekira 2045.

Kunjungan Dubes Rusia

Rabu (2/3/2016), Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menerima Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Galuzin di Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur. Kedua pihak membahas peningkatan kerja sama kedua negara di bidang militer.

Acara dihadiri Asintel Panglima TNI Mayjen TNI (Mar) Achmad Faridz Washington, Kapuspen TNI Mayjen TNI Tatang Sulaiman, Kapuskersin TNI Laksma TNI Suselo, Chief Representative of the Federal Service for Military-Technical Coorperation  Alexander Smirnov, dan Atase Udara dan Laut Rusia untuk Indonesia Colonel Nikolay V. Nikolayuk.

Pada kesempatan berbeda, Pabandya Gunkuat Sops TNI/Mabes TNI, Letkol Laut (P) Salim, menuturkan, Rusia dan Indonesia, berpengalaman positif dalam kerja sama bidang militer sejak 2000, di mana TNI menerima beberapa modifikasi jet tempur Su, helicopter mi-17 IV dan Mi -35, BTR -80 A, BMP-3F, serta senjata AK-101 dan AK-102.

Selain itu, merespons keinginan Indonesia yang ingin mengembangkan teknologi nuklir damai, pada 2016, universitas-universitas teknik Rusia berencana menerima 20 mahasiswa dari Provinsi Kalimantan Timur yang akan mempelajari energi atom di Rusia.

Perwira TNI AL yang concern pada diplomasi pertahanan maritim ini memaparkan kedekatan Indonesia dengan Rusia selama ini.

“Dulu, Rusia memberikan dukungan politik kepada Indonesia. Pertama-tama dengan pengakuan untuk kemerdekaan Republik Indonesia. Dan sekarang, lebih ditingkatkan, khususnya dalam sektor pertahanan,” terangnya.

Hubungan pertahanan Indonesia-Rusia, tambah Salim, dapat dilihat dari sejarah hubungan di era Bung Karno.

“Kita melaksanakan Operasi Pembebasan Irian Barat. Waktu itu, kekuatan pertahananan kita mampu menggetarkan dunia, termasuk juga Amerika dan koloninya. Berbagai jenis kapal canggih dan modern pada masanya serta kapal selam bantuan Rusia saat itu mampu sebagai penggetar lawan,” jelas penulis buku Path Way to Indonesia Maritime Future itu.