KRI Teluk Bone 511 Dukung Operasi Angkutan Laut Militer Satgas Pamrahwan Maluku Utara

KRI Teluk Bone 511. (Foto: Dispen Kolinlamil)
KRI Teluk Bone 511. (Foto: Dispen Kolinlamil)

Ternate, MAROBS ** Kamis (10/3/2016), KRI Teluk Bone 511 mengangkut pasukan Batalyon Infanteri 408/Suhbrasta Sragen yang menyerahterimakan tanggung jawab tugas Pengamanan Daerah Rawan (Pamrahwan) kepada Batalyon Armed 12 Kostrad Ngawi di Maluku Utara.

KRI Teluk Bone 511 telah mendebarkasikan Yon Armed 12/Kostrad dan akan mengembarkasikan Yonif 408/Subhrastra di Pelabuhan Ahmad Yani Ternate untuk kembali ke markasnya di Sragen Jawa Tengah, usai melaksanakan tugas.

“KRI Teluk Bone 511 yang berjenis Landing Ship Tank dan berada di bawah pembinaan Satlinlamil Surabaya membawa Batalyon Armed 12 Kostrad dari Surabaya, tiba di Ternate pada malam hari kemudian dilaksanakan pemeriksaan barang bawaan oleh tim gabungan intelijen dan personel Polisi Militer,” ujar Kepala Dispen Kolinlamil, Letkol Laut (KH) Bazisokhi Gea.

Selanjutnya, dilaksanakan upacara serah terima Satgas yang dipimpin oleh Danrem 152/Babullah, Kolonel Inf Syafrial.

Usai pelaksanaan upacara, dilaksanakan Embarkasi dan Debarkasi personel, material, dan kendaraan. Setelah itu, dilkukan pengarahan kepada personel Satgas baru oleh Kasi Intel dan Kasi Ops Korem yang memaparkan situasi kondisi Maluku Utara secara global.

LST Senior

KRI Teluk Bone 511 menjadi bagian sejarah TNI AL. Genderang program Minimum Essential Force (MEF) telah dikumandangkan, kemudian diwujudkan dengan update beragam alutsista baru. Meski demikian, bukan berarti alat perang tua langsung disingkirkan.

“Sepanjang esensi dan fungsionalitas alat perang masih dibutuhkan, beberapa masih terus digunakan. Di lini armada LST (Landing Ship Tank), masih ada kapal yang tergolong amat sepuh. Bila ditakar usianya, sudah jauh lebih tua dari anggota TNI AL aktif paling senior sekalipun,” ungkap Bazisokhi.

Kapal yang dimaksud adalah LST 542 Class buatan Amerika Serikat. Pada awal 1960-an, khususnya dalam menyongsong Operasi Trikora, TNI AL mulai kebanjiran LST untuk menunjang misi pendaratan amfibi.

Berlanjut pada 1967, LST 542 yang menjadi pemain di banyak laga Perang Dunia II dan Perang Vietnam kembali berdatangan memperkuat Satuan Kapal Amfibi TNI AL, salah satunya KRI Teluk Bone 511.

“Kecuali KRI Teluk Amboina, kesemua LST di atas merupakan veteran Perang Dunia II, terutama dalam perannya saat operasi pendaratan pasukan Sekutu di Pantai Normandia Prancis pada 1944. Beberapa di antara LST tadi, juga ada yang mampir untuk terlibat dalam operasi AS di Vietnam pada periode 1967-1970,” papar Bazisokhi.

Kini, sambungnya, sebagian besar LST 542 Class yang sempat menjadi tulang punggung armada LST sudah dihapus dari inventaris armada TNI AL. Sekarang, masih ada tiga unit LST 542 Class yang dioperasikan Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), yaitu KRI Teluk Amboina 503, KRI Teluk Ratai 509, dan KRI Teluk Bone 511.

Spesifikasi

Merujuk dari sejarahnya, KRI Teluk Bone yang masuk LST 542 Class bisa digolongkan sebagai light LST. Pasalnya, bobot mati kapal ini hanya 1.651 ton, sementara untuk bobot muatan penuhnya bisa mencapai 4.145 ton.

Sebagai perbandingan, LST Frosch class I bobot normalnya 1.744 ton dan LST Frosch-II bobot normalnya 1.530 ton. Sementara LST terbaru TNI AL, KRI Teluk Bintuni 520, bobot matinya 2.300 ton.

KRI Teluk Bone memiliki panjang 100 meter dan lebar 15 meter. Dapur pacu kapal ini dipercayakan pada 2 unit mesin diesel General Motors 12-567 900HP dengan dua bilah propeller dan dua kemudi. Dari mesin tersebut, dapat dicapai kecepatan maksimum hingga 12 knots (setara 22 km per jam).

Soal jarak tempuh, dalam kondisi normal Teluk Bone bisa menjelajah sampai 24.000 mil (38.624 km), pada kondisi tersebut kecepatan kapal dipatok 9 knots dengan bobot penuh 3.960 ton

Sebagai kapal pendarat amfibi, KRI Teluk Bone dibekali dengan kemampuan angkut kargo. Selain bisa dimuati 17 unit tank pada tank deck (dek bagian bawah), dek utama (dek bagian atas), juga dapat diakses untuk keluar masuk kendaraan. Hal ini dimungkinkan berkat adanya elevator forward setelah pintu pada ramp.

Dalam gelar operasi, dek utama kerap ditempati kendaraan pendukung seperti truk, artileri, jip, dan lainnya. Soal kapasitas muatan bergantung pada jenis misi yang diembannya. Secara umum, LST 542 class bisa dimuati beban antara 1.600 ton hingga 1.900 ton.

Tidak hanya mengantarkan tank, KRI Teluk Bone juga dapat mengangkut pasukan Marinir yang terdiri dari 16 perwira dan 147 prajurit.

Untuk tugas pendaratan pasukan ke bibir pantai, tersedia dua unit LCVP (Landing, Craft, Vehicle, and Personnel).

Persenjataan kapal ini dirancang lebih pada kebutuhan peran dari PSU (penangkis serangan udara). Ada dua pucuk kanon twin kaliber 40 mm (di haluan dan di buritan), empat pucuk kanon 40 mm laras tunggal, dan 12 pucuk kanon 20 mm laras tunggal. Kesemuanya dioperasikan secara manual. Kapal perang ini secara keseluruhan diawaki oleh 7 perwira dan 104 anak buah kapal.

Sampai saat ini, KRI Teluk Bone 511 berada di bawah pembinaan Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Surabaya dan dikomandani oleh perwira menengah berpangkat setingkat Letnan Kolonel, meskipun terkadang juga seorang Mayor namun sudah sesuai syarat menempati jabatan tersebut.

Sebagai wujud orisinalitas, corong komunikasi dari bridge (anjungan) ke kamar mesin masih menggunakan pipa dan bukan radio seperti kapal militer masa kini. Jam, lonceng, instrumen, bahkan lambang kapal asli dari AS masih ada di beberapa kapal-kapal LST eks Perang Dunia II ini.

Keberadaan KRI Teluk Bone yang masih eksis dan tetap dapat beroperasi hingga saat ini tidak terlepas dari upaya-upaya TNI AL dalam rangka mempertahankan kesiapan teknis KRI melalui program Perpanjangan Usia Pakai (PUP).

Selama lebih dari 40 tahun setelah memperkuat jajaran kapal perang TNI AL, KRI Teluk Bone banyak dilibatkan dalam operasi militer, baik Operasi Militer Perang (OMP) di Timor Timur maupun Operasi Militer Selain Perang (OMSP) lainnya yang bersifat bakti kemanusiaan.