Finalisasi RUEN, Menteri ESDM Kemukakan Paradoks Pengelolaan Energi Nasional

Menteri ESDM Sudirman Said selaku Ketua Harian DEN memimpin rapat dalam rangka finalisasi rancangan RUEN. (Foto: Humas Kementerian ESDM)
Menteri ESDM Sudirman Said selaku Ketua Harian DEN memimpin rapat dalam rangka finalisasi rancangan RUEN. (Foto: Humas Kementerian ESDM)

Jakarta, MAROBS ** Anggapan Indonesia kaya dengan sumberdaya energi fosil telah waktunya dikritisi, karena sejatinya sumberdaya fosil pada satu waktu akan berakhir. Di sisi lain, cadangan batubara Indonesia hanya 5,7 persen dari cadangan dunia, namun menjadi eksportir batubara terbesar di dunia.

Hal tersebut disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said selaku Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), pada hari ini, Jumat (18/3) memimpin rapat DEN dalam rangka finalisasi rancangan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

“Dari sisi kebijakan energi nasional, kita telah menempatkan energi sebagai modal pembangunan nasional, bukan komoditas, tetapi regulasi yang ada, belum sepenuhnya sejalan. Hal tersebut di atas merupakan beberapa contoh paradoks pengelolaan energi nasional,” ujar Menteri Sudirman.

Menurutnya, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, pemerintah telah menetapkan Kebijakan Energi Nasional terkait konservasi energi.

Sudirman menjelaskan, beberapa indikator belum efisiennya pemanfaatan energi dapat dilihat dari harga BBM dan listrik yang masih bersubsidi, insentif untuk pelaksanaan efisiensi energi dan konservasi energi yang masih terbatas, belum konsistennya pelaksanaan disinsentif bagi pengguna energi yang tidak melaksanakan efisiensi energi dan konservasi energi.

Selain itu, konservasi energi belum diterapkan secara mandatory (wajib) di sektor industri dan transportasi.

Berdasarkan hal tersebut, pemerintah menyusun strategi konservasi energi yang terdiri dari penciptaan manajer energi dan auditor energi, kemudian pembangunan penerangan jalan umum cerdas dan kewajiban label hemat energi dan Minimum Energy Performance Standard (MEPS) untuk Compact Fluorecent Lamp (CFL) dan AC.

242 Manajer Energi

Pada 2016, Kementerian ESDM menargetkan jumlah manajer energi bertambah menjadi 242 orang, dari jumlah sebelumnya pada 2015 sebanyak 192 orang. Sementara jumlah auditor energi yang pada 2015 berjumlah 127 orang meningkat menjadi 167 orang.

Pembangunan penerangan jalan umum cerdas ditargetkan mencapai 10 kabupaten/kota dan kewajiban label hemat energi dan MEPS untuk CFL dan AC akan diterapkan untuk kulkas, penanak nasi, pompa, motor listrik, dan seterika.

Untuk mencapai target-target tersebut, pemerintah telah menyusun strategi Pengembangan Kampanye Konservasi Energi yang terdiri dari Penyadartahuan, Perubahan Perilaku, dan Aksi.

Penyadartahuan mencakup kampanye media massa dan media sosial. Untuk perubahan perilaku, pemerintah akan memberikan insentif, menerbitkan regulasi, melibatkan publik, kampanye di daerah dan memberikan penghargaan. Untuk aksi konservasi energi, melalui gerakan Potong 10%.

Pemerintah juga akan memberikan insentif dan menerbitkan regulasi yang akan didukung dengan perekrutan manajer dan auditor energi, labelisasi hemat energi, dan pemberian penghargaan konservasi energi.