Letkol Laut (P) Salim: Optimalisasi Pembangunan Indonesia Timur dengan Pertahanan Negara Maritim

Pabandya Gunkuat Sops TNI/Mabes TNI, Letkol Laut (P) Salim. (Foto: Dokumentasi Pribadi)
Pabandya Gunkuat Sops TNI/Mabes TNI, Letkol Laut (P) Salim. (Foto: Dokumentasi Pribadi)

Ternate, MAROBS ** Pabandya Gunkuat Sops TNI/Mabes TNI, Letkol Laut (P) Salim, berpandangan, untuk mengoptimalisasikan pembangunan Indonesia timur, perlu pengubahan konsep pertahanan negara menjadi konsep pertahanan negara maritim.

“Konsep pertahanan diubah menjadi konsep pertahanan negara maritim, di mana kekuatan utama adalah TNI AL dan didukung oleh kekuatan TNI AU dan TNI AD,” ujar Salim dalam Seminar Nasional Universitas Khairun Ternate bertema ‘Optimalisasi Pembangunan Maritim Wilayah Timur untuk Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia’, Sabtu (6/2/2016).

Pada konteks pertahanan, sambungnya, Pemerintah harus mampu mewujudkan pembangunan kekuatan maritim Indonesia (Indonesia Maritim Power), mengingat lingstra negara maritim yang berkembang, baik global maupun regional.

“Dalam Maritime State Frame Work, ketika pemerintah mengeluarkan policy tentang visi maritim maka Kementerian Pertahanan harus mampu mewujudkannya dalam bentuk Strategi Pertahanan Maritim yang akan dikolaborasikan dengan Strategi Maritim dari Kementerian Koordinator yang terlibat, dipimpin Kemenko Maritim, sehingga akan tersusun Strategi Maritim Indonesia (SMI). SMI ini merupakan gabungan strategi maritim dari sipil dan militer,” papar penulis buku Kodrat Maritim Nusantara tersebut.

Ia menambahkan, dalam membangun kekuatan maritim, Bangsa Indonesia harus berdasarkan fondasi dasar negara, yaitu Pancasila dan UUD 45 yang asli. Selanjutnya, Kebijakan Poros Maritim Dunia harus diwujudkan dalam tataran National Policy yang dijabarkan oleh masing-masing kementerian maupun lembaga.

“Budaya dan karakter bahari terlebih dahulu harus ditanamkan dalam jiwa rakyat Indonesia sebagai bagian dari National Character serta tata pemerintahan serta wajah politik yang mencerminkan karakter maritim yang menjunjung nilai agama, Pancasila, dan luhur keadatan,” tuturnya.

Kodrat Maritim

Mantan Komandan KRI Untung Suropati tersebut mengatakan, bila Bangsa Indonesia ingin mengulangi kejayaan Nusantara sebagai bangsa maritim maka harus mengetahui jatidiri bangsa, di mana kodrat penciptaan ruang tinggalnya adalah maritim, bukan kontinental.

“Sejarah telah mencatat masa lalu peradaban maritim bangsa kita. Cikal bakal munculnya perdagangan internasional di Maluku bahwa Banda Neira pada November 1511 menjadi bahan perbincangan dunia,” kata Salim.

Menurutnya, Kepulauan Banda telah tercatat dalam Nagarakretagama sebagai kepulauan terpenting dalam perdagangan internasional abad ke-15 sebagai penghasil rempah-rempah. Kepulauan Banda diincar berbagai bangsa dengan berbagai cara.

“Dari sejarah tersebut dapat diketahui, kita memiliki peradaban maritim yang tinggi saat bernama Nusantara. Kodrat bangsa kita adalah bangsa maritim, di mana pemerintahannya harus mampu memanfaatkan kekayaan sumberdaya laut untuk sebesar- besar kemakmuran rakyat yang adil dan merata,” pungkas Salim.