KRI Teluk Ratai 509, Siap Kawal NKRI Meski Berumur Lebih dari Tujuh Dekade

KRI Teluk Ratai 509 saat Artileri Gun Exercise di Pulau Gundul Karimun Jawa, Jumat (19/2/2016). (Foto: Dispen Kolinlamil)
KRI Teluk Ratai 509 saat Artileri Gun Exercise di Pulau Gundul Karimun Jawa, Jumat (19/2/2016). (Foto: Dispen Kolinlamil)

Karimun Jawa, MAROBS ** Jumat (19/2/2016), Prajurit KRI Teluk Ratai 509 tampak sedang mengarahkan meriam kaliber 37 mm ke sasaran dalam rangka Artileri Gun Exercise di Pulau Gundul Karimun Jawa. Meski terhitung berusia tua, kemampuan tempur KRI Teluk Ratai 509 tak surut sedikit pun.

“Tujuan digelarnya latihan menembak dari jarak 4 ribu-5 ribu yard atau 2-3 mil tersebut untuk melatih dan meningkatkan profesionalisme masing-masing prajurit matra laut, khususnya personel KRI Teluk Ratai 509,” ujar Komandan KRI Teluk Ratai 509, Letkol Laut (P) Wijayanto.

Selain itu, sambungnya, untuk memperlihatkan bahwa kapal perang berjenis Landing Ship Tank buatan Amerika Serikat pada 29 April 1944 dan bertonase 4080 ton ini selalu dalam keadaan siap setiap saat mengawal NKRI.

Old ship never die, just past away,” ucap Wijayanto.

Kapal perang yang sehari-hari berada di bawah binaan  Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) Surabaya ini berada di Pangkalan Jakarta usai mendukung operasi Angkutan Laut Militer (Anglamil) pergeseran pasukan dan material Satgas Pamtas RI-Malaysia di Kalimantan Barat.

Menurut Komandan Satlinlamil Surabaya, Kolonel Laut (P) Tedjo Sukmono, setiap melaksanakan pelayaran, semua kapal perang di jajaran Satlinlamil Surabaya ditekankan untuk mengadakan latihan Artileri atau Meriam Kapal.

“Hal tersebut bertujuan menguji tingkat kesiapan persenjataan serta penguasaan prajurit terhadap persenjataan yang ada dan diharapkan dengan latihan yang terus-menerus dan berkesinambungan, baik terencana maupun tidak terencana, dapat meningkatkan profesionalisme prajurit,” paparnya.

Peremajaan

Akhir 2010, PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) mencatat, TNI Angkatan Laut berencana memusnahkan enam kapal perang jenis Landing Ship Tank (LST), sebagai bagian dari program peremajaan alat utama sistem senjata matra laut. Enam kapal LST dan LDP itu berusia rata-rata 64-70 tahun.

Keenam LST tersebut yakni KRI Teluk Langsa 501, KRI Teluk Bayur 502, KRI Teluk Kau 504, KRI Teluk Tomini 508, KRI Teluk Ratai 509, KRI Teluk Saleh 510, dan KRI Teluk Bone 511 eks-US Nay buatan tahun 1942-1945, di antaranya digunakan dalam operasi amfibi di Pantai Normandia saat Perang Dunia II.

Enam kapal tua yang akan dimusnahkan masih dapat dioperasikan dan mesin kapal masih cukup terawat. Karena pertimbangan usia kapal yang sudah tua maka akan dipensiunkan.

Meski demikian, hingga hari ini, KRI Teluk Ratai 509 masih tangguh bertahan, mengamankan setiap jengkal perairan Indonesia.