Tertarik Pasar Indonesia, Kuwait Petroleum Corporation Siap Investasikan US$50 Miliar

Kantor Pusat Kuwait Petroleum Corporation di Kuwait City. (Foto: Wikipedia)
Kantor Pusat Kuwait Petroleum Corporation di Kuwait City. (Foto: Wikipedia)

Kuwait, MAROBS ** Kuwait Petroleum Corporation (KPC) berkomitmen akan segera berinvestasi di Indonesia, selama diberi kesempatan, peluang, dan insentif oleh pemerintah Indonesia, khususnya untuk pembangunan kilang minyak dan tempat penyimpanan (storage) bahan bakar.

Antusiasme KPC dalam melakukan investasi di Indonesia telah tampak sejak 10 tahun lalu. Keseriusan tersebut ditunjukkan dengan keberadaan kantor perwakilan KPC di Indonesia, serta dengan adanya beberapa aset yang mereka miliki di Indonesia.

“Penurunan tajam harga minyak dan perlambatan ekonomi dunia telah mendorong Kuwait untuk fokus dalam melakukan investasi langsung di luar negeri, khususnya dalam bidang perminyakan dan gas,” ujar CEO KPC, Nizar Mohammad Al-Adsani, Kamis (21/1/2016), di Kuwait City, dirilis Kementerian Luar Negeri.

Ia menjelaskan, KPC tengah berupaya meningkatkan keuntungan, melalui pengembangan usaha dalam skala besar, baik di dalam maupun luar Kuwait.

Total dana yang diinvestasikan sebesar US$50 miliar dan berencana kembali menginvestasikan US$50 miliar dalam beberapa tahun ke depan.

Pihak KPC baru-baru ini telah menanamkan investasinya di Vietnam sebesar US$9 miliar, dan akan segera ditambah menjadi US$16 miliar dalam beberapa tahun mendatang. Sejumlah investasi lain yang mereka lakukan, antara lain adalah proyek clean energy sebesar US$4 miliar serta penambahan kapasitas kilang minyak di Kuwait sebanyak US$5 miliar.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia untuk Kuwait, Tatang Budi Utama Razak, mengatakan, Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa merupakan pasar yang sangat potensial untuk digarap investor asing, khususnya dalam bidang perminyakan.

“Potensi investasi dan kerja sama antara Indonesia dan Kuwait masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh kedua negara,” ungkapnya, saat bertemu CEO KPC.

Salah satu fokus pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, sambungnya, adalah memastikan energy security. Dubes RI berharap agar KPC dapat mengoptimalkan peluang dimaksud, antara lain dengan memanfaatkan MoU yang ditandatangani oleh KPC dan Pertamina pada 31 Agustus 2015. CEO KPC pun menyambut baik tawaran Dubes RI tersebut.

MoU Pertamina dan KPC

Penandatanganan Nota Kesepahaman PT Pertamina (Persero) dan KPC dilakukan untuk mengembangkan bisnis migas dan energi terbarukan. Aliansi dua National Oil Company menjadi sangat penting bagi strategi bisnis hulu hingga hilir kedua perusahaan.

Dirilis Pertamina, MoU tersebut menjadi landasan kedua perusahaan untuk melakukan kajian bersama mengenai potensi kerja sama di bidang minyak dan gas bumi, termasuk energi baru dan terbarukan di Indonesia, Kuwait, maupun di wilayah negara lain.

Kajian yang akan dilakukan di antaranya kajian teknikal, komersial, maupun finansial baik di upstream, midstream, maupun downstream, termasuk di bidang pemasaran, pengolahan, infrastruktur, dan petrochemical.

Saat ini, Pertamina memiliki pertumbuhan bisnis upstream yang cukup baik dengan produksi minyak pada kuartal II 2015 tumbuh sekitar 8 persen (y-o-y) pada level 274.03 ribu barel per hari dan gas stabil di posisi 1,6 BSCFD. Sekitar 27 persen dari total produksi minyak perusahaan disumbangkan dari operasinya di luar negeri.

Dari sisi midstream, Pertamina terus meningkatkan efisiensi kilang domestik, sehingga dapat bersaing di level regional. Selain melakukan optimasi, Pertamina saat ini menyiapkan dua program utama di bidang pengolahan, yaitu Refinery Development Masterplan Program (RDMP) dan New Grass Root Refinery (NGRR) untuk menciptakan kilang dengan kompleksitas tinggi, peningkatan kapasitas dari 1 juta BPH menjadi 2,3 juta BPH pada 2025, serta mengintegrasikannya dengan petrochemical.

Adapun di sektor pemasaran, infrastruktur penyimpanan, transportasi dan distribusi, serta outlet penyaluran BBM Pertamina relatif merata dan menjangkau seluruh pelosok Nusantara. Kini, Pertamina memiliki kapasitas penampungan BBM sekitar 5 juta KL dengan rencana penambahan kapasitas 1,5 juta KL dalam 5 tahun ke depan, serta 6.835 lembaga penyalur, dengan 5.399 unit di antaranya berupa SPBU.